Curhat Pagi

Kisah curhatan seorang ibu tentang anak-anaknya

         Pagi ini, saya sebagai seorang ibu sangat bahagia sekaligus terharu. Pasalnya adalah ketiga anak laki-laki saya sedang dalam masa memperjuangkan masa depannya. Semoga Allah senantiasa memberi kelancaran atas semua yang mereka perjuangkan, aamiin.

         Anak pertama saya bekerja di sebuah lembaga swasta, alhamdulillah di akhir tahun ini istrinya mengajak membuat rumah di sebelah rumah orang tuanya. Istrinya sudah browsing-browsing model rumah yang ia dambakan. Bahan-bahan bangunan mulai dikumpulkan. 

         Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan untuk membeli bahan bangunan tersebut. Sejak tahun lalu sudah membeli batu. Saat saya ke sana di minggu ketiga kemarin, saya lihat sudah ada segunduk pasir dan setumpuk batu bata. Ya Allah berilah kemudahan mereka untuk pengadaan selanjutnya.

         Anak ketiga, mendapat amanah dari mertuanya untuk membeli rumah dan membuka usaha. Dengan uang muka yang dikirim oleh mertuanya dia dan istrinya mencari rumah. Datang ke rumah minta saran dan solusi dari kami sebagai orang tua. Qadarullah, alhamdulillah ada teman memberi tahu lewat WA, bahwa ada perumahan 0% DP siap dibangun. Datanglah mereka berdua melihat tempat perumahan tersebut. Namun sayang mereka tidak cocok karena jauhnya tempat dia bekerja dengan perumahan itu.

         Ada lagi perumahan yang menawarkan dengan DP yang bisa mereka jangkau. Dilihatlah tempat perumahan tersebut. Namun sayang domisilinya juga terlalu jauh dengan tempat kerja. Yang jadi berat juga karena setelah rumah dibangun, untuk menempati harus sudar terbayar 60% dari harga rumahnya. Mereka meras tidak sanggup. Akhirnya mereka berdua memutuskan tidak jadi ambil perumahan itu. 

         Saya ingat pada teman saya perempuan  yang memang sering juga menawarkan perumahan kepada saya, karena beliau tahu kalau saya belum punya rumah. Maka saya tawarkan rumah itu, ternyata mereka berdua tertarik. Maka saya segera menghubungi teman saya itu namun beliau menjawab sudah habis.

         Tapi beliau menawarkan rumah yang modelnya seperti perumahan. Tempatnya di kampung dekat dengan sekolah tempat saya bekerja. Setelah saya ceritakan kepada anak saya dan diberitahukannya kepada istrinya, ternyata mereka tertarik. Saya ajaklah mereka berdua untuk melihat rumah atas persetujuan teman saya. 

         Alhamdulillah, mereka berdua sangat cocok dengan model bangunan dan kekuatan serta domisili rumah itu. Dekat rumah kami, dekat sekolah saya dan suami, dekat mushalla dan dekat pasar. Yang terpenting lagi, tidak terlalu jauh dengan tempat kerjanya.

         Saya beri waktu tiga hari untuk mohon petunjuk pada sang kholik apakah rumah itu memang untuk mereka berdua, dan tentunya harus dengan persetujuan orang tua istrinya yaitu mertuanya yang telah mengamanahkan untuk membeli rumah. Setelah itu saya tanyakan harga. Alhamdulillah kita sepakat dengan aturan pembayarannya. Hari kita akan bayar uang DP. Semoga lancar dan Allah selalu memberi rezeki untuk menyelesaikan pembelian rumah ini, aamiin.

        Selanjutnya untuk anak laki keempat saya. Tahun ini dia sudah masuk kuliah. Pilihan awal di Perguruan Tinggi dia tidak lolos. Maka pilihan keduanya yang jadi sasaran. 

          Alhamdulillah, mulai tanggal 21 September 2021 mengikuti Pesmaba di kampusnya. berangkat dengan sepeda motor bututnya yang dia sangat senang menaikinya sampai juga di kota Malang dengan waktu yang sama dengan kalau naik bus.

         Saat ini anak saya ini bertempat tinggal di rumah kos milik saudara sepupunya, yaitu anak dari adik saya yang kerja di sana. 

         Harapan saya, semoga lancar dan dapat kemudahan dari Allah dalam menimba ilmu demi masa depannya,  aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makanan Emak-emak